Minggu, 19 Mei 2013

Ujian Sekolah

Minggu yang lalu aku baru saja menghadapi ujian sekolah. Pada hari itu adalah ujian mata pelajaran Bahasa Bali. Aku paling frustrasi jika sudah berhadapan dengan mata pelajaran tersebut, karena aku bukan asli dari Bali. Jangankan menjawab soal mengartikan, arti dari soal itupun aku tak tahu.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya kuputuskan untuk menyontek kepada temankuyang pintar berbahasa Bali. Namun, karena temanku itu ada di ruangan sebelah, aku menyontek melalui sms.

Keberuntungan rupanya tak berpihak kepadaku. Ponselku baterenya habis. Kumencari jalan keluar yang lain. Bagaimana jika aku meminjam ponsel temanku saja?

"Adi, aku pinjam ponselmu ya?" tanyaku dengan wajah memelas.

"Buat apa?"

"Ponselku mati. Sebentar lagi ada ulangan basa Bali. aku mau menyontek ke Rosida. Boleh, ya?"

"Boleh. Tapi kamu nyontekin aku juga ya."

"Ok."

Bel masuk pun berdering, pertanda bahwa ujian Bahasa Bali akan dimulai. Pengawas ujian kali ini ternyata guru yang menurutku killer. Tapi kutenangkan diriku sendiri.

Ponsel Adi sudah ada di tangan. Akupun mulai mengirimkan sms ke Rosida untuk meminta jawaban. Namun tanpa sengaja aplikasi radio di ponsel temanku tersebut menyala. Aku panik setengah mati. Teman sekelas memandangku dengan tatapan aneh. Guru pengawaspun begitu. Namun cepat-cepat kumatikan ponsel itu. Dan mengerjakan soal.

Mulai saat itu aku takut menyontek lagi.

----------------------------------------
Catatan: nama-nama yang dicantumkan di sini dan di entry yang lain tidak selalu nama asli. -- Editor.